Alhamdulillah, ucapan itulah yang tersirat di lisan seluruh santri dan asatidz di saat melihat Pengasuh berjalan memasuki aula dalam rangka ijtima’ (4/1/17) setelah kepulangan beliau dari menunaikan ibadah umroh bersama rombongan keluarga ndalem. Wajah beliau terlihat ceria, fisik beliau terlihat segar bugar tidak terlihat keletihan sedikitpun.

Acara diawali dengan pembacaan doa oleh Kiai. Kemudian sambutan singkat oleh Gus Murtadlo. Setelah itu tibalah giliran Kiai memberikan petuah beliau kepada para santri sepulang dari menunaikan umroh kali ini.

Dalam petuahnya, Kiai bercerita bahwa peserta umroh kali ini adalah Kiai, Bu Nyai Hj. Qomariyah, Gus Faiz Basori, Ning Ummu Basori, dan delapan cucu beliau yang belum pernah umroh. Dengan demikian maka semua anggota keluarga inti Kiai telah melaksanakan umroh. Perjalanan beliau pada umroh kali ini adalah 13 hari. 2 hari untuk perjalanan, 6 hari di Madinah dan 5 hari di Makkah.

Beliau mengungkapkan syukur karena bisa sering menunaikan shalat di masjid Nabawi yang pahalanya dilipatkan 1000x lipat dibandingkan di masjid lainnya. Beliau senantiasa membaca surat Al-Ikhlas kapanpun dan dimanapun saat berada di haramain. Beliau bertemu dengan alumni-alumni PIQ dan alumni majlis ta’lim masjid Jamik Malang, baik di Makkah maupun Madinah. Salah satunya adalah alumni bernama ust Atho’illah asal Sidoarjo. Ustad Atho’ kini telah tinggal di Jeddah dan menjadi pembimbing Haji dan Umroh. Rupanya Ustad Atho’ ini menggunakan buku tulisan Kiai untuk mengajarkan manasik kepada jamaahnya (dalam koridor madzhab Imam Syafi’i).

Kiai juga bercerita mengenai pengalaman-pengalaman beribadah di sana. Bahwasanya dalam melaksanakan Haji dan Umroh memang sangat sulit jika hanya berpegangan pada 1 madzhab dalam pelaksanaannya. Semisal dalam praktik thowaf. Jika terus menganut madzhab imam Syafi’i, yang menyatakan bahwa persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram adalah membatalkan wudhu, maka thawaf tidak akan bisa dilaksanakan. Untungnya kita diperkenankan berpindah madzhab dalam rangka memudahkan kita dalam beribadah. Nanti ketika kita kembali ke Indonesia, maka kita kembali mengikuti madzhab Imam Syafi’i.

Menurut Kiai, Orang haji yang sedang ihram akan memiliki banyak larangan. Diantaranya orang ihram yang berthawaf haruslah suci dari hadats kecil dan hadats besar. Untuk Hadats kecil mudah ditahan, namun hadats besar sulit ditahan. Semisal perempuan yang sedang haid yang akan melaksanakan thawaf. Maka dia otomatis terlarang masuk ke wilayah Masjidil Haram. Untuk ibadah haji tidak menjadi masalah karena jangka waktunya yang panjang. Yang repot adalah ketika melaksanakan umroh dengan jangka waktu yang terbatas. Maka perempuan ini bisa lepas dari larangan ihram melalui pembayaran dam. Orang umroh atau haji bisa melakukan haji atau umroh bersyarat. Semisal dengan mengatakan (yang kira-kira artinya): “andaikata ada sesuatu yang menghalangiku untuk meneruskan ibadah, maka di tempat itu dan saat itulah aku bertahallul (membatalkan ihram).” Dengan ini maka pelaku umroh telah lepas dari ibadahnya tanpa harus membayar dam.

Beliau juga berkesempatan beribadah di dalam Roudhoh. Beliau diprioritaskan masuk ke dalam ruangan Roudhoh, dikarenakan memakai kursi roda dengan alasan kesehatan. Di Madinah ada Masjid Quba. Di mana shalat 2 rakaat di sana pahalanya sama dengan 1 kali umroh.

Ketika di Makkah, beliau berkesempatan untuk silaturahmi ke pesantren yang diasuh oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki. Alhamdulillah kali ini Syaikh Ahmad mengundang secara khusus seluruh keluarga Kiai beserta keluarga perempuan. Padahal biasanya tidak dibolehkan. Bahkan beliau diundang masuk ke dalam kamar tempat wafatnya Abuya. Beliau juga diberi bingkisan oleh Syaikh Ahmad yang berisi surban, potongan kiswah (kain penutup ka’bah) dan juga minyak wangi.

Tinggalkan Balasan