Jakarta – Jumat, 2 Desember 2016

Pukul 3.30 saya terbangun karena kaki saya tersenggol orang-orang yang berlalu-lalang. Saya duduk, dan ketika membuka mata saya melihat masjid sudah full putih. Tanda kehidupan sudah menggeliat. Semua sumringah, semua membara.

Kami pun siap-siap berwudhu dan melaksanakan hajat secukupnya. Dengan jumlah jamaah yang demikian banyaknya, mandi sudah bukan menjadi prioritas lagi. Seusai sholat Shubuh, kami langsung berjalan kaki menuju Monas. Kami ingin dapat shaf terdepan. Kami memutuskan jalan kaki dari Kwitang. Jaraknya sekitar 1.5km. Mau bilang capek? Malu sama jamaah dari Ciamis. Hehehe..

Di tengah perjalanan, kami bertemu jamaah dari berbagai daerah. Masing-masing dari kami saling tebar salam dan senyum. Persaudaraan muslim kental menyeruak. Di mana-mana kami ditawari makanan dan minuman gratis. Kami sampai sungkan menolak. Kalau kami terima semua, mungkin kami bisa buat kantin kecil seperti di pondok.

Sesampainya di Monas, rupanya di sana sudah padat jamaah. Ada yang datang sendiri, ada yang bersama keluarga, ada yang bersama jamaah. Di berbagai sudut penjuru mata angin telah tersedia toilet dan tempat wudhu.

Rupanya kami salah arah, tempat yang kami jujuk ternyata gerbang khusus akhwat-akhwat. Kami harus berjalan lewat arah lain. Kami pun segera menuju ke sana. Di tengah berjalan kami berhenti sejenak untuk menuntaskan hajat.

Seusai menuntaskan hajat, kami pun masuk lapangan Monas. Ah, kami gagal dapat shaf terdepan. Tapi tak apalah, dari posisi shaf kami, kami masih bisa melihat panggung dengan jelas. Apalagi juga ada pengeras suara tepat di hadapan kami.

Waktu masih menunjukkan pukul 06.00.

Dan acara inti sendiri dimulai pukul 08.00

Pra acara dimulai dengan sambutan dari penyanyi nasyid kembar dari FPI. Kami diajarkan lagu mars Aksi Bela Islam dengan lirik yang menggugah semangat.

Pembawa acara memberikan pengantar mengenai tujuan aksi hari ini. Satu kata yang paling kentara, yakni DAMAI.

Di waktu-waktu ini ada beberapa “kericuhan” yang jenaka. Diantaranya adalah saat pembawa acara melihat banyak jamaah yang menggelar sajadah di atas rumput. Maka MC menghimbau agar pergi dengan kata-kata, “Pak, jangan disitu dong. Nanti bikin senang media dan wartawan. Ntar mereka gak nyorot acara ini, tapi nyorot rumput yang rusak!”

Hadirin yang mendengar ini langsung serentak berdiri berteriak ke arah lapangan rumput.

“Turun, Pak!”

Ntar di shooting ama si Metro,”

“Metro pergi, Metro pergi, Metro TV tukang bohong!”

Memang di berbagai sudut, kami melihat awak media sudah mengambil posisi nyaman di berbagai spot. Pengamanan juga maksimal. Terlihat beberapa kali kamera drone dan helikopter mengawasi.

Pukul 8 TEPAT, acara pun dimulai. Tidak telat barang semenitpun.

Acara dimulai dengan sambutan (saya lupa siapa yang bertugas) saat ini langit masih mendung. Sesekali gerimis tipis mampir.

08.13  Opick berdiri dan mengajak jamaah bershalawat. Semua hanyut dalam shalawat. Shalawat seakan menjadi pemicu paling ampuh untuk membakar semangat kami.

08.36 – Kapolri masuk. Yang heran, saat Pak Tito masuk, langit yang awalnya sejuk mendadak panas.

08.37 – pembacaan ayat suci Al-Quran dengan lagu tartil (udara masih panas lembab).

09.00 – Habib Muhammad Al-Haddad membaca Sholawat Ad-Diba’i. Beliau hanya membaca 2 rowi. Suara beliau mungkin tak seindah Muammar Z.A., tapi penghayatannya tiada duanya. Sesekali beliau terisak tak kuat menahan mahabbah. Hadirin hening. Langit tiba-tiba memendung kembali.

09.20 – Kapolri Tito memberikan sambutan. Belum sampai menyelesaikan kata-kata, koor hadirin langsung membahana menyuruh Tito mundur. Ustadz Bachtiar Nasir langsung berdiri. Alih-alih menenangkan, beliau malah mengajak jamaah untuk meneriakkan jargon “Tangkap, tangkap, tangkap si Ahok! Tangkap si Ahok sekarang juga!”

09.35 – Ustadz Arifin Ilham mengajak berdzikir dan bershalawat bersama. Di akhir, beliau berdoa dengan penuh terisak. Kata-kata doa beliau sangat menyentuh sanubari hadirin. Semua larut dalam kekhusyukan. Tak ada yang malu menangis di sini. Yang mengherankan, saat momen ini langit seakan turut menangis dengan turunnya gerimis tipis.

10.05 – Hidayat Nur Wahid memberikan tausiah. Beliau banyak memasukkan unsur historis mengenai perjuangan umat islam dalam membela NKRI. Beliau dengan tegas menampik bahwa aksi 212 ini adalah makar.

10.15 – Syaikh Ali Jabir memimpin hadirin untuk membaca 10 ayat awal dari surat Al-Kahfi. Karena banyak hadirin yang hafal dan ikut membaca, maka suara Al-Kahfi terdengar syahdu di penjuru langit ibukota, Jakarta.

10.20 – Habib Abdurrahman As-Segaf mengajak hadirin membaca doa khotmil Quran singkat (allahummarhamna bil quran…) tiga kali.

10.25 – Ustadz Bachtiar Nasir memberikan orasi yang membakar semangat.

10.30 – Ketika hadirin memanas, maka tibalah aa’ Gym memberikan tausiah. Materi yang disampaikan dengan gaya kalem namun jenaka mampu meredam suasana menjadi lebih tenang. Diantara materi yang beliau sampaikan adalah:

  • Bangunan besar dapat berdiri kokoh nan megah dikarenakan apa? Karena ia terdiri dari bangunan yang beragam. Ada pasir, ada semen, ada batu, ada besi, ada juga baja.. Kesemua bahan itu dapat menyatu menjadi bangunan besar dan indah karena masing-masing tidak ada yang menonjolkan diri. Tubuh juga sama, jantung meskipun ada di dalam tubuh dan tak kentara namun tugasnya diakui. Begitu pula masyarakat akan menjadi damai jika masing-masing tahu tempatnya tanpa perlu menunjukkan diri satu sama lain
  • Kesemua bahan tadi rupanya mampu menyatu padu dikarenakan ada air. Padahal air adalah elemen yang lembut. Rupanya kelembutan mampu melarutkan segala hal.

11.07 – K.H. Syaifudin Amsir memberikan tausyiah.

11.14 – K.H. Didin Hafidudin memberikan tausyiah.

11.25 – K.H. Habib Nabil Al-Musawwa memberikan tausyiah. Tausyiah beliau singkat tapi mengena. Poin yang kami ingat adalah saat beliau mengatakan, “kenapa saya bela-belain datang ke sini? Karena nanti pas di alam kubur, terus ditanya malaikat apa kitabmu, dan saya jawab Al-Quran, saya takut ditanya lagi sama malaikat, “terus kamu ke mana pas dulu ayat Allah dilecehkan?”

11.32 – Habib Umar Shahab membacakan doa. Gerimis mulai turun lagi.

11.42 – Adzan sholat jum’ah mulai dikumandangkan. Saat ini gerimis berubah menjadi hujan. Tidak lebat, tapi cukup membuat kami basah kuyup. Yang mengherankan tidak ada dari hadirin yang beranjak dari tempat. Semuanya rela diguyur hujan. Tak peduli lagi soal pakaian. Luluh lantak sudah semua beban. Hujan membaur bersama air mata tangisan.

Habib Riziq lantas bertindak sebagai khatib sholat Jumat. Diantara poin yang kami tangkap adalah:

  • Bagaimanapun juga ayat-ayat konstitusi takkan bisa menggantikan atau bahkan berada di atas ayat-ayat qurani. Karena ayat konstitusi ialah ciptaan insani, dan ayat qurani ialah ciptaan ilahi.
  • Jika ada ayat konstitusi bertabrakan dg ayat ilahi, maka ayat konstitusi harus direvisi.
  • Di Indonesia tidak ada agama apapun yang bisa dinistakan oleh siapapun. Baik dia Islam, Kristen, Hindu, Budha. Tak ada siapapun yang boleh menistakan agama.

Selanjutnya shalat Jumat pun dilaksanakan. Hujan masih betah menghujam.

12.30 – Shalat jumat telah usai, Jokowi kemudian berdiri memberikan sambutan. Tapi apa yang terjadi? Hadirin semburat bubar. Tak ada yang memperhatikan. Jokowi terabaikan.

Berangsur-angsur jamaah pulang kembali lewar berbagai arah dengan tertib. Sama sekali tidak ada aksi anarki menonjol. Bahkan aparat TNI dan POLISI diajak berselfi oleh orang-orang.

Rombongan PIQ sendiri memilih istirahat di Kwitang sampai maghrib menjelang. Karena macet tidak bisa diabaikan.

Kami pun sampai rumah sekitar pukul 19.30. Kemudian kami shalat Isya’. Setelahnya kemudian kami makan malam dengan menu ayam bumbu bali dan sayur kangkung, dan akhirnya terlelap dihanyut payah.


Ditulis oleh Ustadz Ahmad Syafiqul Umam
Disunting seperlunya oleh M. Afiful Hashif

Tinggalkan Balasan