pengurus-baru

Rabu, 14 Januari 2015. Ba’da Isya’ semua warga PIQ berduyun-duyun menuju PIQ 2. Pengajian libur. Hari itu pengurus punya gawe besar. Yakni pelaporan pengurus periode 2013-2015 serta pelantikan pengurus baru periode 2015-2017.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00 dengan pra-acara pembacaan Maulid Simtud Dhuror yang dipimpin langsung oleh ketua umum, Ammy Luthfi Basori, dengan didampingi oleh jajaran asatidz yang tampak berkumpul di sebelah selatan panggung. Setelah pembacaan yang berlangsung dengan khidmat, maka MC mulai membuka acara. Kali ini santri bernama Adlan yang dipercaya sebagai pemimpin acara.

Setelah dibuka dengan pembacaan Al-Fatihah,

Aceng Sholahuddin didapuk menjadi Qori’. Suaranya yang merdu membuat suasana aula menjadi hening meresapi kalam-kalam ilahi. Acara dilanjutkan dengan laporan-laporan dari pengurus lama. Penyampai pertama adalah Ust. Abdul Ghofur, S.Pdi selaku kepala madrasah yang menyampaikan laporan bidang pendidikan. Yang kedua adalah Ust. Shohibul Mirbath, S.Psi dari bidang Non-Pendidikan. Dan yang terakhir adalah Ust. Abul Faiz, S.T dari bidang ke-TUan. Di sini para ketua menyampaian hasil kegiatan, pencapaian-pencapaian serta pesan dan kesan saat menjabat menjadi pentolan pengurus. Di sini para ketua sekaligus menyatakan secara resmi akhir kepengurusan pada periode mereka.

Seusai tahap ini, acara memasuki sesi pelantikan pengurus baru yang dimulai dengan pembacaan nama-nama pengurus baru beserta seluruh koordinator serta anggota-anggota yang dibawahinya. Setelah itu seluruh pengurus dan koordinator kemudian foto bersama di atas panggung bersama ketua umum, Ammy Luthfi Basori.

Selanjutnya acara memasuki babak akhir, yakni penyampaian motivasi dan nasehat. Pembicara pertama adalah Gus Buyung Murtadho yang baru saja pulang dari Yaman. Di sini beliau memotivasi para hadirin untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad dengan cara mencintai para ulama, ilmu dan berusaha melestarikan warisan para ulama’. Diantara warisan tersebut adalah lembaga pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama. Oleh karenanya, khidmat menjadi pengurus melayani pesantren merupakan kepanjangan dari bentuk cinta kepada nabi Muhammad SAW.

Pembicara yang kedua adalah Ammy Luthfi Basori. Pada kesempatan ini Ammy memotivasi semangat khidmat para santri melalui cerita pengalaman beliau saat berkhidmat kepada Guru beliau, yakni Abuya Sayyid Alwi Al-Maliki saat mesantren di Makkah. Beliau bercerita bahwa selama 8 tahun mondok, porsi waktu belajar beliau tergolong sedikit. Namun hal ini bukan tanpa sebab. Karena beliau ditunjuk oleh Abuya untuk khidmat kepada beliau sebagai Khodim pengurus minuman para tamu. Selanjutnya Ammi juga pernah menjadi pengurus bagian dapur. Dan beberapa lama sebelum beliau pulang ke tanah air, Ammy menjadi Khodim pembuat kopi untuk Abuya. Ammy juga dikenal sebagai Katib (penulis) keterangan-keterangan dari Abuya yang tidak jarang nantinya menjadi sebuah buku. Contohnya adalah kitab Mafahim yang dipelajari di PIQ, merupakan hasil urun tenaga ammy dalam proses penulisannya. Ammy sempat merasa waktu belajarnya kurang maksimal. Namun beliau termotivasi dengan perkataan: Qoddimul Khidmat ala Ta’allum.

Subhanallah, saat beliau pulang ke tanah air perkataan-perkataan serta keterangan-keterangan mengajar dari Abuya saat Ammy mendampingi beliau, terpatri betul di benak Ammy. Sehingga beliau dengan mudahnya menyampaikan kembali apa yang dulu disampaikan Abuya.

Seusai bercerita, Ammy kemudian menutup dengan pembacaan do’a. Memasuki paska acara adalah kegiatan ramah tamah oleh seluruh pengurus dan koordinator.

Maka semoga apa yang disampaikan Gus Buyung dan Ammy Luthfi dapat menggelorakan semangat para pengurus pada khususnya dan seluruh santri pada umumnya untuk berkhidmat ke almameter tercinta, Pesantren Ilmu Al-Qur’an. Hari itu babak baru telah dimulai. Mari kita tunggu inovasi-inovasi terbaru dari para Ahlul Khidmat. (Syafiq)

Tinggalkan Balasan